SUDAHKAN MENGENAL AL-QUR’AN???
Kitab suci al qur’an merupakan salah satu kitab samawi yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Besar Muhammad SAW melalui perantara Jibril.
Kitab suci al qur’an diturunkan secara jumlatan wahidatan (keseluruhan) pada malam nuzulul qur’an tanggal 17 ramadhan dari Lauhil Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia) sebagaimana penjelasan Surat Al Qadar ayat 1.
Selanjutnya Allah menurunkan kitab suci al qur’an secara tadrij (bertahap) selama kurang lebih 23 tahun kepada Rasulullah yakni 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah.
Al Qur’an terdiri dari 30 juz dan 114 surat yang dimulai dari surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas. Surat-surat tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni Surat Makkiyyah dan Madaniyyah.
Ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini, namun pendapat yang masyhur adalah Surat Makkiyyah yakni surat-surat yang diturunkan sebelum hijrah sedangkan Surat Madaniyyah adalah surat-surat yang diturunkan setelah hijrah.
Nama-nama surat dalam al qur’an adalah tauqifi yang bermakna penamaan dari Allah yang biasanya diambil dari kejadian luar biasa yang terkandung dalam surat tersebut semisal Surat Al Baqarah (Sapi) oleh karena dalam surat tersebut ada kisah sapi milik Bani Israil, Surat An Naml (Semut) oleh karena dalam surat tersebut ada kisah semut dengan bala tentara Nabi Sulaiman, Surat Yusuf oleh karena dalam surat tersebut ada kisah Nabi Yusuf bersama 11 saudaranya.
Seluruh surat al qur’an diawali dengan bacaan basmalah kecuali Surat At. Taubah dengan alasan yang dijelaskan oleh para ulama’ karena basmalah itu sebuah keamanan sedangkan surat tersebut menjelaskan keadaan peperangan. Akan tetapi jumlah basmalah dalam al quran masih tetap 114 karena dalam Surat An Naml ada dua basmalah yakni diawal surat dan isi surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Bilqis yang dijelaskan dalam surat An Naml.
Ayat-ayat alqur’an pun dikelompokkan menjadi dua yakni ayat muhkamat (ayat yang sudah jelas maknanya) dan ayat mutasyabihat (ayat yang belum jelas maknanya). Dalam hal ini pengarang kitab dalam bidang teologi (ilmu tauhid) yakni Imam Ibrahim Al Laqqani memberikan penjelasan dalam karyanya Jauhar Tauhid yang bebrbunyi:
وكل نص أوهم التشبيها * أوله أو فوض ورم تنزيها
“Setiap nash al qur’an yang memberi kesan tasyabbuh (keserupaan khaliq dengan makhluk) maka ta’willah atau serahkanlah dan sucikanlah (allah dari tasyabbuh)”
Dalam menyikapi ayat mutasyabihat ulama’ berbeda pendapat. Ulama’ Salaf (sebelum kurun 300 H) memilih tafwidh (pasrah) dan hal ini lebih selamat dari kesalahan. Tetapi Ulama’ Kholaf (sesudah kurun 300 H) memilih ta’wil (memalingkan makna haqiqi ke makna majaz) dan hal ini lebih memahamkan.
Penerapan dua metode tersebut dapat dicontohkan semisal dalam ayat berikut ini:
يد الله فوق أيديهم…الآية
Menurut ulama’ salaf dalam hal memaknai kata “yadullah” adalah tangan Allah dan tidak serupa dengan tangan makhluk. Sedangkan menurut ulama’ kholaf kata “yadullah” ditakwil dengan makna kekuasaan Allah.
Turunnya Al Qur’an kepada rasulullah secara bertahap dimulai saat beliau bertahannus (beribadah) di dalam Gua Hira’. Saat itu malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama yakni surat Al Alaq ayat 1-5 dan ayat yang terakhir turun adalah Surat Al Maidah ayat 3 saat menjelang wafatnya baginda Nabi.
Turunnya Al Qur’an tersebut sesuai keadaan dan kondisi yang dikenal dengan asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat). Semisal turunnya Surat Al Kafirun disebabkan oleh tawaran orang kafir quraisy kepada Baginda Nabi untuk bergantian tuhan.
Membaca al qur’an wajib hukumnya memakai ilmu tawid serta memperhatikan makharijul huruf nya sebagaimana penjelasan Kitab Nadzom Jazariyyah. Membaca al qur’an sudah mendapatkan pahala meskipun belum faham maknanya.
Al Qur’an tidaklah membosankan untuk dibaca berulang-ulang sebagaimana kalam ulama’:
كل مكرر مملول إلا القرآن
“Setiap yang diulang-ulang pasti membosankan kecuali Al Qur’an”
Orang-orang yang ahli dalam membaca Al Qur’an akan dirindukan oleh surga sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu sebagai seorang muslim yang mengaku mempunyai kitab suci al qur’an sebagai pedoman hidup seharusnya mulai bertahap dari membaca, memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran dari Al qur’an. Wallahu A’lam
(By: Muhammad Rifai, S.Pd)